Jumat, 02 Maret 2018

Explore Madura

Piknik kali ini disponsori oleh,, by my self lah, siapa lagi. Hari Jumat tanggal 2 Februari perjalanan melalahkan dimulai. Rencana Februari ini sebenarnya ke negeri laskar pelangi, namun apalah daya, tabungan inung indak cukup.. maafkan saya teman-teman, ya kali kalau dipaksain bisa nggak makan setahun. Hari jumat, dengan kereta kelas ekonomi seharga Rp 100.000,- keberangkatan yang seharusnya pukul 21.00 molor jadi 22.30. Oke, belum-belum udah nggak enak aja, pake delay pula ni kereta. Akhirnya kami sampai Surabaya Pasar Turi pukul 03.30, yang seharusnya 01.40, mau nggak mau jadwal hari ini yang menyebrang gili seberang via Sumenep harus delay juga, kenapa? ya karena nggak keburu perahunya, penyebrangan ke Gili Genting dan Labak sekitar pukul 05.00 - 06.00 WIB. Akhirnya sama pihak operator jalan dituker jadwalnya, acara yang harusnya hari kedua, dituker jadi hari pertama. 

Pukul 05.15 Sabtu tanggal 3 Februari mas -mas operator jalan baru jemput rombongan kami. Siapa peserta kali ini? tambah rame,,, aassiikk, peserta tetapnya ya Inung dan Alifah, Anin yang kemaren ikutan ke Banyuwangi ketagihan jalan bareng kita, akhirnya dia ikut sama satu lagi temenya, Isna, dan ditambah mbak Andin,, aaayyee... berlima kita perempuan tangguh berjalan menuju timur mencari kesejukan hati. Setelah mandi mandi kecil di kamar mandi masjid, kamipun bertemu masnya dan menuju arah Madura. Ternyata masnya ini, mas yang dulu ngater kita piknik di Banyuwangi, cuman ganti TL nya aja. Sebelum jauh meninggalkan Surabaya, kami mampir makan dulu di Surabaya, lokasinya dimana saya juga nggak ngerti banget, deket gor dan alun-alun, makan paginya soto surabaya dengan porsi jummbboo, nasi setengah tapi kayak porsi 2 orang.

 


Perjalanan panjang menuju Bukit Jaddih, di daerah Bangkalan, perjalanan kurang lebih 1,5 jam dari Surabaya, karena kondisi jalannya yang masih bebatuan yang menyebabkan jadi sedikit lebih lama. Sampai sana masih pagi, foto selfa selfi,Bukit Jaddih ini sebenarnya sisa tambang kapur, bahkan diarea tersebut masih ada penambangan kecil kecilan, dan juga pengerukan. Pengerukan ini untuk memperluas area wisata, kalau info dari mas TL, rencanaya mau dibuat seperti collosium, buat gladiator gitu kali ya mas,,, haha

Bukit Jaddih Madura

Next, kita main di bukit bukit lagi, kali ini Bukit Arosbaya, hampir sama dengan bukit Jaddih, bukit Arosbaya juga merupakan sisa penambangan kapur, bedanya warna buktinya lebih merah, mungkin sih karena bukit ini jauh lebih lama dibandingkan bukit Jaddih. Jarak Bukit Arosbaya dengan Jaddih sekitar 1 jaman. Pas sekali diluar hujan terus, maka saya pun bisa tidur pulas di mobil, hahha. Sampai di daerah Bukit Arosbaya (masih di daerah Bangkalan) kondisinya masih hujan. Yasudah bobok lagi aja, sampai ujannya agak reda, turun mampir di warung tenda, dan makan mie rebus, maafkan inung ya mas... (mas yang mana, embuh). Kontur bukit disini lebih bagus, karena dindingnya yang ditata sedemikian rupa, dan warnanya yang temaram.

Bukit Kapur Arosbaya Madura

BUkit Arosbaya Madura
Bukit Kapur Arosbaya
Tujuan selanjutnya adalah rumah makan bebek sinjay yang terkenal. Sebenarnya saya tidak begitu suka dengan bebek, namun olahan bebek yang satu ini benar-benar membuat ketagihan. Bebek yang empuk, bumbu yang meresap, kremesan yang pas dan tidak asin, ditambah sambal yang pas membuat lidah benar-benar bergoyang, sambalnya mantap, tidak terlalu pedas. Kalau saya ke sini lagi, saya tidak akan  melewatkan bebek sinjay.


























Setelah perut terisi kembali, tenaga sudah ada, selanjutnya melanjutkan perjalanan ke next destination, yaitu air terjun Toroan di Kabupaten Sampang. Air terjun ini langsung jatuh ke laut, mungkin ini dari sungai yang bermuara di laut, mungkin loh ya... Asumsi saya sih begitu. Saya rasa kalau sunset disini sangat bagus viewnya, sayang pas kami sampai sana belum sunset sunset amat, baru pukul 3 sore. Tapi tak apalah, kami masih bisa berfoto, its a must sih kalau ini.

Air Terjun Torosan
Air Terjun Toroan

Air Terjun Torosan
Pantai Toroan
Puas berfoto-foto di air terjun, kami akan beristirahat di hotel di daerah Kabupaten Sumenep. Seharian ini kami benar-benar berputar mengelilingi pulau Madura. Perjalanan dari Toroan ke hotel cukup jauh, iyalah... kami menyusuri jalan sepanjang pantai, nice sih... Pukul setengah 6 kami sampai di penginapan daerah sumenep, hotelnya apaan ya,, lupa, udah lama soalnya, indak di foto lagi. Cuma lumayan nyaman kok buat istirahat, dan mandi, cuma kamar mandinya kurang begitu bersih, sampai harus minta ganti dua kali, minta tambah gayung sama ember yang bekas semen.. hihihi..

Saat makan malam tiba, kami memutuskan ke Warung Upnormal, ealah jon jon,, padahal kalau di Semarang malah belum pernah ke sana, giliran di Madura kok makannya di sini, haha.. Saking bingungnya kita mau makan apa, dari pada makan endog lagi endog lagi, kami akhirnya makan mi aneh aneh di Upnormal, saking senengnya juga sih ada cafe di Madura,, hihi. Makan dari habis isya sampai pukul 9 malam, kami kembali ke hotel yang jaraknya hanya sekitar 50 m, istirahat dimulai.

Pagi hari, Minggu tanggal 4 Februari selepas adzan Subuh, kami berkemas untuk check out dan siap siap menuju Gili Labak. Karena posisi penginapan kami di Sumenep, jadi perjalanan menuju penyebrangan tidak terlalu lama, cukup satu jaman lah kami sudah sampai di dermaga kecil di Desa Tanjung, Saronggi. Penyebrangan dimulai pukul 6 kurang 15.

Akses ke Dermaga Tanjung

Dermaga Tanjung
Pagi hari di Tanjung, ternyata meyimpang suasana sunrise yang cantik, seperti ini kira-kira yang berhasil dibidik kamera sunrise pagi itu

Tanjung Sumenep Madura
Sunrise Tanjung
Gii Labak
Masih seger ya di perahu, iyalah wong pagi
























Destinasi pertama adalah menuju Gili Genting. Perjalanan dari pelabuhan Tanjung ke Gili Genting ditempuh cukup singkat, kurang lebih setengah jam. Sampai sana juga masih sangat pagi, setengah 7 pagi, masih pengen ngasur tapi sudah di pantai aja. Sampai di Gili Genitng yang kami lakukan adalah sarapan pagi, owalah jauh jauh nyebrang pulau ternyata cuma mau makan. Bisa ditebak dong kira-kira menunya apa?

Nasi endog
Setelah makan di, kami pun nyemplung-nyemplung dikit di sini, dikit aja karena tujuan utamanya kan ke Labak. Kalau di Genting, ada penduduk lokal yang hidup di sini. Pasirnya cenderung basah di genting. Fasilitas komplit komplit, kamar mandi bersih banyak, tempat sampah di mana mana. Karena ndak afdol kalau belum foto, mari kita foto terlebih dahulu

Gili Genting Madura
Pantai Gili Genting

Perjalanan dilanjutkan kembali pukul 8 pagi. Lumayan jauh untuk perjalanan yang selanjutnya, hampir 1,5 jam lebih. Ngantuk, capek, tidur, kok masih ndak sampai sampai ya, bangun, tidur lagi, gitu terus sampai akhirnya jam 10 kurang dikit kami sampai di Gili Labak. And,, wooww,, its amazing, really. Warna lautnya yang biru, cerah, biru, gelap, agak tosca, pasirnya yang lembut, yang putih,, aahhhhh beautiful. Rupanya masih terlalu pagi untuk snorkeling, akhirnya kamipun menunggu sampai jam 12 siang, kenapa? Terlalu dangkal, dan kuatirnya kita kena karang yag tajem apalagi banyak babi laut,, yang item item panjang iya bulu babi, kan sakit kalau kena. Trus kami ngapain? Foto? sudah jelas, kamipun bergeser ke sebelah kanan pulau, yang agak sepi, agak tenang, agak privat, dan memang bagus tempatnya buat foto. Setelah foto kami masih punya banyak waktu, akhirnya kamipun main banana boat

Gili Labak Madura
Menyusuri Gili Labak

Gili Labak
Merapih Alam Gili Labak
Pukul 12, teng teng teng, waktunya snorkeling.. yeaa... Ternyata snorkelingnya diistu aja, kirain mau pindah lokasi dimana gitu, eh ternyata cukup disitu aja. Cuman agak ketengah sedikit gitu deh.. Oiya kalau untuk fasilitas, disini air tawar harus beli, 10 ribu gitu, tapi kami ndak mandi kok, cuman pipis pipis tipis, hahaha, soalnya abis snorkeling kami juga langsung cek out balik kesono lagi. Penginapan? Belum ada juga, adanya tempat ngecamp. Langsung aja deh begini foto snorkelingnya



Pukul 13.30 kamipun mentas dari laut, sudah saatnya kembali ke daratan luas, besok kerja. Sekitar pukul 14.00 perahu motor yang kami tumpangi baru benar-benar meninggalkan Gili Labak. Dua jam perjalanan kami tempuh dengan kondisi gerimis kecil, jauh ya,, capek banget, merem melek kena angin laut dan akhirnya sampai, kamipn lari karena udah kebelet. Buat mandi di daerah sini banyak kok rumah rumah warga yang nyediain fasilitas mandi, di mushola juga ada, di sampingnya pas, apaagi emang parkir kendaraan di mushola, jadi fasilitas kamar mandi di sebelah mushola yang udah berjejer banyak itu tetep dierbu wisatawan, kamipun berpencar mencari lokasi mandi lain, dan well, semua rumah warga di sini bisa banget mandi, mana murah lagi, cukup Rp 3.000,- aja loh..

Bersih sudah, selanjutnya makan,, ampun laper banget suer.. kami makan di rumah warga samping mushola, udah paketan juga, coba tebak? nasi sop sama telur rebus setengah, cari kerupuk aaahhh buat tambah-tambah lauk. Makan sudah, dan waktu menunjukkan pukul 16.00, kita harus bergegas, kereta pukul 21.00, bisa ketinggalan ini, jadi perjalanan normal dari lokasi kondisi tanpa macet adalah 5 jam, mana waktu itu macet, jam 20.45 kami sampai di stasiun Pasar Turi, yang harusnya 5 jam ini cuma 3,5 jam dengan kondisi macet, mau tau gimana kecepatannya? Jantung mau copot, ggiilllaaakkkkkk,, parah, ngeri.. Alhamdulillah selamat,, aku terharu

See u next trip lah ya...

Senin, 25 Desember 2017

Ambon Maniisseee

Manis sekali si ambon.. Lagi-lagi saya punya kesempatan buat travelling gratis. Kalau dibilang pure travelling sih bukan, jelas jelas bisa sampai sana karena memang ada pekerjaan, undangan dari kementerian pusat. Beruntungnya jadi satu-satunya staf ya sudah pasti berangkat kemanapun, apesnya sih semua kerjaan larinya juga ke saya, but its oke,, everything will be oke, yang penting sih kalau kata saya bisa pergi jauh. Tanggal 14 Desember 2017, kami bertiga berangkat menuju Ambon pertempuran (bukan medan lagi ya.....). Karena im the only one staf yang harus bisa allround, akhirnya berangkat kali ini perlu pemain tambahan, diambilkan dari mantan staf tempat saya sekarang. Iyalah,,, ane juga masih amatiran soal aplikasi,, deg deg an juga kan kalau berangkat sendiri tanpa senior. 
Kamis pukul 5 pagi, saya sudah standby di depan pintu masuk pemeriksaan awal, nungguin pak bos yang kami kira nggak jadi datang, dan bahagialah kami, hahaha (eh, kami apa cuman gueh ya). Perjalanan 45 menit, mengantarkan kami sampai soetta, dan sampai soetta pesawat kami delay hore satu jam. Prediksi sampai Pattimura pukul 2an, meleset jadi pukul 15.30 WIT. Perjalanan dari bandara Pattimura menuju lokasi di daerah Natsepa cukup jauh, 45 menit kurang lebih. Namun ada insiden kecil waktu kami mau menuju hotel. Saat keluar dari pintu bandara, berjibun taksi lokal menawari saya dan yang lain untuk diantarkan menuju lokasi. Tetapi saya memilih maju jalan lurus mencoba mencari taksi burung biru,, ini yang biasa saya lakukan saat pergi jauh di daerah baru seperti sekarang, faktor safety menjadi priotitas saya, kalau dua bapak-bapak yang bareng saya ini sih, pasti ngikut aja sama saya, iyalah saya cewek satu-satunya otomasti urusan seperti ini bagian saya. Ngelirik sana sini tidak menemukan taksi yang saya maksud, saya mendekati sopir-sopir taksi yang masih menungguin saya diskusi, dan bertanyalah saya berapa ongkos dari bandara ke Natsepa, satu setengah katanya... saya berusaha memastikan satu setengah juta nih jangan2,, ooww ternyata seratus lima puuh ribu, murah... Begitu deal harga, si bapak mengambil mobil yang diparkir agak jauh, dan kita nunggu di dipinggiran bandara, masih dilokasi yang sama kita nawar tadi, begitu kita mau naik,, ada segerombolan orang yang mendekati si sopir kita, dan memaki maki,, asli saya enggak paham dengan apa yang diucpakan, karena menggunakan bahasa lokal, cuma ada beberapa kata kasar memaki maki bintang keluar,, tapi untung si bapak sopir kita diam saja.. ternayata yang datang tadi yang tidak terima karena si bapak sopir yang dapat penumpang bukan dia.. Owalah,,, kok kasar sekali.
Perjalanan kurang lebih 45 menit sampai di Hotel Natsepa, lokasinya ada di daerah Natsepa Salahutu. Begitu samoai sana, tanpa basa basi langsung lari kebelakang hotel, pppaannttaaaiiiiiii Natsepa...

Natsepa Ambon Maluku

Natsepa Ambon Maluku
Halaman Belakang Hotel Natsepa
Jalan kearah kanan hotel ada dermaga yang entah masih berfungsi atau tidak, tapi yang jelas bagus sekali menjadi spot foto, dan susnsetnya manis sekali..

Natsepa Ambon Maluku

Natsepa Ambon Maluku
Malam harinya kami beraktivitas di indoor room, acara sudah dimulai, pun demikian di pagi harinya Jumat tanggal 15 Desember 2017, kami ngantri pembahasan cukup gasik, dengan harapan segera checking segera selesai segera main. Pembahasan dilakukan satu jam lebih lalu setelahnya karena mepet waktu sholat Jumat, akhirnya kami mulai perjalanan sore hari pukul 16.00 WIT.

Sore hari, kami menyewa mobil dari hotel dengan harga nego 350 ribu untuk kebeberapa destinasi. Sebenarnya kepengen ke pantai, namun apalah daya waktu kita keluar sudah pukul 4 sore, belum waktu tunggu saat kita memesan mobil dan perjalanan, akhirnya kami memutuskan menuju arah kota, melewati jembatan merah putih yang menjadi ikonik kota ambon. Saya kira di Ambon bebas macet, ternyata salah, macet jugak di Ambon.. Dimana mana penuh kendaraan

View dari Jembatan Merah Putih

Jembatan Merah Putih
Gambar di atas adalah view yang dapat dilihat dari atas jembatan merah putih yang ada di sisi sebelah kiri, berupa teluk ambon, sedangkan di sebelah kanan adalah lautan lepas, namun karena sedang sunset, maka backlight jika dipaksakan mengambil gambar. Sedangkan  gambar di sebelah kiri adalah jembatan merah putih, dimana jembatan ini yang menguhubungkan kota Ambon dengan daerah sekitar pulau Ambon, jadi akses ke kota jika dari arah Natsepa dan sekitarnya adalah jembatan merah putih ini.
Kami menuju pusat oleh oleh Cahaya, letaknya di pusat kota Ambon, depan hotel Swiss Bell Ambon, agak masuk gang dan sebelum jembatan. Kalau kata pak sopir ini yang terlengkap, semua ada. Tapi seluruh peserta pembahasan juga menuju pusat oleh-oleh ini juga. Harga disini standart, untuk makanan ringan seharga 35 ribu keatas untuk satu packnya, dan kaos dibanderol harga 90 sampai 95 ribu rupiah. Selanjutnya perjalanan kami menuju ke gong perdamaian,, World Peace Gong. Letaknya tidak terlalu jauh dari pusat oleh oleh, berada di pusat kota. Masuk ke lokasi ini kami dikenakan biaya masuk 5.000 rupiah per orang.

Gong Perdamaian Ambon
Gong Perdamaian Ambon


Kami tidak berlama-lama di sini, karena hari yang semakin sore, dan kami juga harus kembali. Selepas dari gong perdamaian, kami menuju Rumah Makan Semarang, wealah, jauh jauh kok kembalinya ke Semarang lagi... Ini karena pak bos pengen makan sate kambing, sementara kami berdua sih hanya pengikut, ngikut ajalah, wong dari awal pak bos udah nentuin arah sendiri tanpa tanya ke kita orang,, sampai sana ternyata jualnya macem-macem bukan cuma sate kambing, saya milih menu lontong sayur, dan teman saya memilih gado-gado, baru deh pak bos tanya, pada gak suka kambing to? wealah,, telat booossss...

Malam hari pukul 20.00 kami baru sampai hotel, perjalanan pulangnya ternyata macetnya tambah parah. Demi menngobati kekecewaan jalan jalan sore tadi, kami berdua para setap nyewa sepeda motor, biaya sewa yang ditawarkan pihak hotel bervariasi, sebenarnya kami sudah merencanakan pergi dari siangm tapi apalah apalah,, padahal malam sebelumnya saya sudah nyari peta vakasi ambon.

Peta Vakasi Ambon
Kalau ditanya hafal jalan, sudah pasti tidak, lahwong Tlogorejo Semarang aja saya nyasar apalagi kota baru. Berbekal gmap, malam malam kami meuju kota kembali. Si teman tampaknya belum puas sama oleh oleh yang tadi sore, iyalah,, dari awal perjalanan tadi sore dia sudah bilang udah nggak mood, akhirnya dia cuma beli pajangan dinding waktu sore tadi. Malamnya kami muter-muter nyari pusat oleh-oleh yang lain. Dapat satu pusat oleh-oleh, lumayan.. pilihannya lebih sedikit memang, tapi yyaa sudahlah. Selanjutnya kami nyasar ndak karuan kearah pelabuhan Ambon, Pelabuhan Yos Sudarso namanya, itu ya yang mboncengin,, udah marah-marah ndak karuan, ssaaallaahhhh mulu deh gueh, diem ajalah. Akhirnya kami bisa balik lagi ke kota, dan nemu toko oleh-oleh lain persis disamping toko yang tadi, dan sayapun ngomel ngomel sendiri.

Malam kian larut, ah belum.. masih jam setengah 10, kami mampir ke alun alun kota mabon, dan sebelahnya adalah monumen Pattimura, jangan lupa foto dulu...



Pukul 10 malam, kami memtuskan kembali ke hotel, melewati kembali jembatan merah putih, lampu-lampunya berwarna-warni, mulai dari merah, biru, hijau, kuning, kami pun menepikan motor dan kembali berfoto di jembatan ini untuk malam hari

Jembatan Merah Putih Ambon
Jembatan merah putih dari jauh

Kami sampai hotel tepat pukul 11 malam, ini karena mampir mampir sih,, perjalanan dengan motor dan malam hari lebih cepet kok, hanya memakan waktu 30 menit. Saatnya tidur dan petualangan esok harinya. Oiya, karena kami menggunakan motor selama 3 jam, kami dikenakan biaya 75 ribu. murahlah...

Pagi hari, Sabtu 16 Desember 2017, jam 6.30 kami sudah siap dengan motor menuju pantai Liang. Pantai Liang letaknya jauh sebenarnya, ada diujung timur pulau Ambon, tapi selalu pakai taktik biar yang diajak ndak protes, sebutkan jarak tempuhnya, cuma 30 menit kok.. Dan benar saja memang cuma 30 menit perjalanan motor dari hotel Natsepa, itu dikarenakan masih pagi, dan jalanan sepi. Sampai Pantai Liang pas dibuka gerbangnya, untung ndak kepagian.. Warna birunya laut disini memiliki gradasi yang sangar cantik, sayangnya terlalu pagi, sehingga gradasi warnanya tidak begitu menonjol, tapi bagus kok...


Pantai Liang Maluku Tengah
Ngadem di Liang


Pantai Liang Sahulau Maluku Tengah
Cantiknya Liang

Pantai Liang

Perjalanan selanjutnya, kami menuju pantai Natsepa samping hotel, iya kesana,, hahaha,, lahwong dari kemaren kami hanya melihatnya dibelakang hotel, belum turun langsung kepantainya.

Selama perjalanan menuju dan kembali menuju Natsepa, kami melewati beberapa pelabuhan kecil, ya mungkin 3 pelabuhan, penasaran kami mampir salah satunya. Dikarenakan kami belum pernah kesini, kami masuk lewat loket, kirain gratis, kok bayar 55 ribu ya,, yasudah bayar saja, ternyata kami salah masuk pintu,, pintu yang itu untuk yang menuju penyebrangan kapal, pantas saja mahal... dikira kami beserta motor mau menyebrang. wealah...

Sampai di Natsepa kurang lebih setengah 9 pagi, jangan lupa main main air, disini pantainya bagus juga ternyata... Lepas sepatu, keceh... Just for information, dipinggiran pantai Natsepa banyak pondokan yang jual rujak natsepa, terkenal juga disini rujaknya, namun karena masih pagi, para mama penjual rujak belum menjajakan dagangangya. Sedangkan untuk masuk pantai Natsepa dikenakan biaya 10 ribu (kayaknya, lupa-lupa ingat kakak)

Pantai Natsepa Ambon Maluku
Indahnya pasir Natsepa


Pantai Natsepa Ambon Maluku
Inung dan Natsepa
Pantai Natsepa Ambon Maluku
Keceh di Pantai

Terus kamipun lapar, makan dihotel? enggak deh kayaknya, mumpung diluar, kamipun menuju kearah barat, arah kota,, maju sedikit sekitar 10 menit, ada yang jual soto, bakso, dan mie ayam dengan viem menghadap pantai.. romantis kalik... Mampirlah kami kesini




Kalau ditanya rasanya,, jauh ya dibanding jawa, tapi suasananya,, lumanyun, ya ambil positifnya ajalah, mungkin dia jual suasana, biar ndak kuciwa aja sih ini sebenarnya, haha

Sampai hotel kamipun siap siap kembali ke kenyataan, peswat jam 14.45 dan saya belum check in, yasudah, cepat cepatlah kita biar ndak ketinggalan pesawat. Pukul 11 kami keluar hotel, checkout dan sebagainya,, lalu kami menuju pusat oleh oleh (lagi), dan ditoko Cahaya (lagi). Selanjutnya pak bos pengen merasakan papeda, wealah,, ini pak bos kalau soal makan, pengennya coba-coba, padahal dua anak ini nggak pernah doyan makanan macem-macem, kita mah pesen nasi putih sama lauk perkedel. Dan, begitulah, kami sampai di Pattimura agak agak delay dalam menuju Jakarta dan Semarang..

Cant wait next end years, next pembahasan, see u soon...

Semarang, 26 Desember 2017








Jumat, 18 Agustus 2017

Osing Banyuwangi

Tiba-tiba banget ingin travelling.. Bukan tiba-tiba sih, hanya berusaha lari. Kok lari neng? Iya lari dari kenyataan bang... Target setaun sekali, karena bingung mau apa, sementara uang di rekening masih numpuk, ya sudah dikuras saja, kalau sekarang mah gue "kere", haha.

Target ke Banyuwangi memang sudah ada setelah dari Lombok bulan Maret lalu, cuman gak nyangka aja kalau akhirnya bulan Juli perginya. Setelah match matchin jadwal kereta, jadwal bis, dan jadwal kerjaan yang susah banget matchnya, tiba-tiba si Minakara ngasih link open trip, ah yasudahlah toh hanya selisih 200an dari budget backpaker yang sudah saya buat beberapa bulan lalu. Oke fine, daftar... DP dibayar 400,- dan pelunasan 390,- dilokasi. Noted, underline, bold, tanggal 29 30 Juli ngetrip ke Banyuwangi, saatnya berburu tiket kereta. Jumat malam pukul setengah 7, saya sudah ada di Poncol dulu, saatnya cetak cetak boarding pass,. Peserta kali ini yang jelas saya Rischa Inung Fauziah dan Alifah, ditambah satu lagi anak yang gabung, sebut saja Anin (entah nama sebenarnya atau bukan)

Boardingpass Berangkat
Kereta berangkat tepat pukul 19.40, perjalanan cukup singkat kurang lebih 4jam. Sampai sana, kami sudah janjian dijemput operator jalan yang akan membawa kita ke Banyuwangi, sebut saja mas Indra (nama sebenarnya). Ada sedikit kendala, misscommunication, dan selemestek kalau bahasa inggrisnya. Ada dua peserta yang harus kita tunggu sampai jam 2 lebih dan akhirnya gak jadi gabung, oke.. waktu 2jam terbuang percuma dan sia sia, jadilah kami berangkat berempat menuju BMX. Satu lagi peserta dari Jakarta ini bernama Sandra (ngakunya sih begitu, iyain aja), solo traveller perempuan yang emejing menurut saya. Sendirian lloohhh,, pantut ditiru.

Perjalanan yang lama justru dari Surabaya menuju Banyuwanginya, 7 jam,, untung mobil yang dipakai kapasitas besar, karena memang didesain buat 6 orang, syukur deh yang 2 cancel, longgar kan jadinya, hahaha.. Sampai Banyuwangi, tepatnya di daerah Watudodol, pukul 8 pagi, ndak pakai mandi, langsung ganti kostum buat snorkeling. Kita mampir makan juga disini, dan disini pula penyebrangan ke Bali. Loh, kok Bali? Iya,, kita mau bersnorkeling di Pulau Menjangan. Pulau Menjangan ini masuk ke kawasan konservasi Bali Barat.


Ternyata cukup lama waktu yang ditempuh untuk menyebrang dari GWD sampai pulau Menjangan, kalau ndak satu jam ya satu setengah jam, dipas pasin aja. Karena jam tangan dan handphone udah dimasukin di tas, ombaknya lumayan, kita aja basah kuyup sebelum nyebur, kan sayang kalau hpnya ikutan snorkeling. Sampai Menjangan, kita bersnorkeling di dua spot pilihan si mas tur (sebut saja demikian, bukan nama sebenarnya, tauk deh nama sebenarnya siapa). Kita yang berempat awalnya, ketambahan dua peserta lagi buat nyebrang, sebut saja pasangan muda mudi yang keren banget dan traveling bareng (beliau ini suami istri dan udah muter-muter hampir seluruh Indonesia dan beberapa di luar negeri)

Isi perahu

Oiya, for ur information, kita ndak pakai fin buat nyebur, karena pakai fin emang udah dilarang di sini, merusak ekosistem terumbu karang. Tapi kalau mau pake fin, boleh aja sih, tapi bayar lagi ya... ini exclude paket wisata. Tapi ternyata lebih enak snorkeling tanpa fin kok. Udah 2 kali snorkeling pakai fin, ini sekali ndak pakai fin, ternyata enakan ndak pakai.

Menjangan Bali
Inung snorkeling spot 1

Spot snorkeling pertama, kami menghabiskan waktu cukup lama disini.. Bisa dibilang di sini oke banget.. ada palung yang cukup dalam. Dan, itu benar-benar amazing,, warna laut dari terang menjadi gelap. Ada gradasi warna dalam satu area. Cuma, sayangnya saya ndak berani foto di dekat palung itu, jadi ya... Take fotonya dari atas, sama yang agak jernih dikit lah, deket sama permukaan gitu. Ikan-ikannya juga cukup banyak, tapi saya paling ngefans sama terumu karang yang diarea palung. Cannttiikkk banget
Menjangan Bali
Inung masih di spot 1
Foto di samping jugak masih di spot satu, agak dalam dikit, dikit aja ndak pakai banyak. Horor, beda sama pas di Karimun sama Bunaken yang mas tur stanby, di sini juga sih sebenarnya, cuma kita dilatih buat ndak takut. Tapi asli, saya sih beneran takut. Kalau tenggelam bagaimana, kan nggak lucu niat travelling tapi nyebur kebawa ombak, sssseerreeemm.














Setelah satu jaman liat anemon, bintang laut, ikan, terumbu karang, teripang, timun laut, dan beranake keragaman hayati yang ndak pakai lelah di bawah laut, saatnya move to next spot. Spot kedua bisa dibilang ppaaannnaaasss banget, airnya bening, bening banget. Tapi airnya anget saking panasnya sengatan matahari. Jadi yang tadinya kita kedinginan dari spot pertama, ditambah kena angin selama perjalanan dari spot satu ke spot kedua, sampai spot kedua jadi anget aja badanya.. Nyemplung jugak semangat.

Menjangan Bali
Inung snorkeling di spot kedua
Nah, yang di sebelah ada view di spot kedua. Lebih jernih kan? Iya emang begitu, airnya jernih, bening, dan anget. Jadi menurut info dari mas tur, harusnya kami ke sini dulu baru ke spot yang tadi pertama. Cuma, karena kita udah agak siang sampainya, dan kondisi angin yang semakin tinggi, kita harus ke spot yang tadi terlebih dahulu. Kalau endak, percuma kesana, ombak udah tinggi dan kita jadi ndak bisa snorkeling di sana.

Itu posisinya lebih dalem dari foto pertama, tapi tetep kelihatan jernih kan..

Udah mulai bosen, salah.. laper. naiklah saya ke atas perahu, mencari sesuap nasi. Makannya di sini biasa aja, namanya juga paket murah. Makan seadanya, yang penting kenyang, yang penting ada makanan masuk, kalau laper semua pasti enak.

Menjangan Bali

Menunya biasa aja kan? Tapi dengan view yang begitu yakin deh jadi ruar biasah.. Habis makan jangan lupa selfie cekrek.

Setelah perut lumayan kenyang, saatnya ke pulau Menjangannya,, di pulaunya, bukan di laut-lautnya kayak tadi. Kenapa disebut pulau menjangan? Karena di pulau ini hidup menjangan liar (eh liar apa emang di ternak ya). Kami juga ketemu kok sama dua menjangan di sini. Mirip mirip rusa gitu deh. sayangnya ndak kefoto, karena setiap kali kami deketin, dianya kabur.. oke fine.. ndak ganggu kok.

Tet, kurang lebih jam setengah 2 waktu indonesia tengah.. padahal cuma nyebrang bentar, udah masuk indonesia tengah aja kan. Saatnya balik, sebelum kemaleman kitanya. Perjalanan balik dari sini, mostly kami tidur diperahu, ngantuk banget, capeknya bener-bener kerasa. Puas main, jadinya ngantuk. Tapi ini ndak bertahan lama. Setengah jam menjelang sandar di GWD, ombakya ttinngggiii banget. Asli, suer, sampai kita harus menyeimbangkan duduk kita, ngitung berapa orang yang di sisi kanan dan di sisi kiri. Saya dan Sandra ada di depan, udah paling basah duluan, yang tadinya kering, ngantuk-ngantuk kepanasan, jadi kedinginan. Miring nganan, miring ngiri, takut, teriak-teriak, panik.. dan saat kami penumpangnya begitu, mas tur sama 2 yang pegang kemudi, santai aja begitu, ketawa-ketawa. Hash, nyebelin. panikan dikit napa.

Sampai GWD setengah 3an, WIB loh ya.. sudah masuk WIB. Kami lagi apes, airnya di GWD mati, ada pemadaman. akhirnya kami cuma ganti baju kering, terus nyari pom bensin terdekat. Sayangnya sampai pom bensin juga sama, karena pom bensin ini sudah diserbu satu bis rombonga dari GWD juga. Akhirnya saya ndak mandi loh... Niatnya mandi di Baluran, tapi ah syudahlah...

Perjalanan dari GWD sampai Baluran cukup lama ple mines satu jam. Dari masuk pintu gerbang Baluran ke padang savana, lebih lama lagi,, satu jaman jugak, tapi jalannya yang cuma batu terjal, buat perjalanan lllaaammma banget. Dari masuk ini kita sudah disuguhi hutan, kanan kiri pohon dan banyak bintang. Kalau malam, ada harimau liar yang keluar, serem ah.

Merak Baluran
Sampai di Baluran, waktunya foto.. padang savana ini lluuaaasss sekali. Di sini kita bisa menlihat ada sekumpulan sapi liar, rusa, apa lagi ya.. banyak deh pokoknya. dan ada pohon raisa, yang kataynya Raisa take di sini buat video klipnya.
Inung dan Raisa
Sapi  (Sapi baluran di sekitar sumur, sumber mata air buat mereka)


Rusa Baluran















Sekumpulan rusa di belakang sapi. Rusa di sini ada yang punya ciri khas. Rusa jantan ada yang pakai mahkota, semacam rumput-rumput kering yang disusun di atas kepala rusa. Hal ini menandakan si rusa jantan siap untuk kawin, dan menggunakan mahkota ini sebagai upaya untuk menarik lawan jenisnya.








Dari kanan ke kiri
(sandra, inung, alifah, anin)
Puas foto-foto di Baluran, pukul 5, saatnya balik. Sebelum beneran ketemu rusa. Lagi-lagi kami tidur, apa cuma saya sama alifah ya.. capek banget soalnya. Perjalanan keluar savana satu jam, dari pintu masuk sampai GWD satu jam, dari GWD ke penginapan satu jam. Wait, GWD lagi? iya, makannya di sana (again). Agak apes malam ini, perasaan dari awal loh.. menunya lele. ah baiklah, saya pesan saja indomi rebus. Indomi rebus dipinggir pantai, pada ngiri kan yang lain, pesen menu yang sama juga. Asiknya di sini, kita ndak kena pemahalan, harganya asli, cuma 5.000,- per porsi. Aqua sebotol juga cuma 3.000,-.

Sampai di hotel, saya mandi. Istirahat. Hotelnya biasa, tapi cukup nyaman lah buat numpang tidur 3 jam. Lagian sayang kalau di hotel mahal, cuma buat mandi, sama tidur 3 jaman doang. Karena jam 11 kita udah dibangunin buat persiapan tracking. hooh, perjlanan panjang berat ke barat di mulai malam ini. Tepat pukul 11, mas tur membangunkan kami. Persiapan, dan jam 12 kami mulai berangkat dari hotel. Forget it, kami menginap di hotel Brawijaya. Bukan Surabaya loh ya.. bukan. Lagi-lagi satu jam. Satu jam untuk sampai lokasi. Begitu sampai parkiran, turun dari moobil, alamak... aaakkk ini ndak ada yang lebih dingin dari ini? sssuueeerrr dingin banget. Ada sih, di dieng, hampir mirip dinginnya. 


















Pukul 01.00 tanggal 30 Juli 2017, kedinginan di lereng kawah ijen. Ngeteh dulu bang, adek ndak kuat dingin.. dinginnya menusuk nusuk hati. Ini padahal saya pakai baju dobel loh,, hahaha.. ndak kuat kalau nggak gitu. Kaos dobel, celana dobel.. biar anget..

Mimik teh anget sambil berdiri dekat tungku, is the best choice... tehnya juga murah kok, 3.000,- kalau ndak salah, apa 5.000,- ya..

Setengah 2, kami mendekat ke pintu masuk jalur pendakian. Tapi... kami belum boleh masuk, yang boleh masuk hanya troli. Pendakian mulai dibuka pukul 02.00 dini hari. Hal ini untuk menghindari terlalu lama di dekat belerang. bahaya... Kami berdiri tepat di depan pintu masuk. biar kalau dibuka langsung bisa nyerobot.

Tepat pukul 02.00 kami boleh masuk, ngacir... masih semngat semngatnya loh.. tapi 15 menit jalan, mulai kerasa ngos ngosan.. jalannya ampun, ndak ada yang ndak naik. Kemiringan hampir 45 derajat. Gimana nggak ngos ngosan. Mas tur cuma ngingetin, kalau capek, mending istirahat, masih keburu kok lihat blue fire, dari pada di atas kelamaan malah kedinginan nunggu sunrise. Awalnya kita berencana jalan bareng ber 6, ber enam, 4 kami, 2 lagi yang satu mas tur sama ponakannya yang masih SMP. Masih smp, tapi jago banget tracking beginian. Kami jadi terpecah 3 kelompok, Anin dan ponakan mas tur depan sendiri, saya dan Sandra di tengah, dan Alifah sama mas tur paling belakang. Hahahah, nggak tega asli liat muka alifah, tiap 5 menit berhenti, minum, ngos ngosan, meracau ndak jelas. Hampir setiap ada kayu yang panjang, bisa buat duduk, mampir duduk, ada batu yang kokoh, nyender. Hahahaha, yang kami butuhkan cuma nyender dan nyender.

Gelap, tapi ndak jadi gelap, dan nggak mungkin tersesat, jalur tracking cuma 1, penuh, ramai, hampir semua orang bawa senter, jadi aman, meskipun terpecah jadi 3 kelompok. Foto? No documentaion. Selain karena gelap, ndak bakal keliatan apa-apa, kami juga ndak konsen foto, konsennya kapan sampai. Setelah tracking 1,5 jam, kami menemukan warung di tempat hampir seperempat jalan. Dari sana. kemiringan sudah 60 derajat, kanan langsung kiri, benar-benar tertinggi kemiringannya. Tapi ini ndak lama, 10 meteran dengan kondisi jalan yang seperti ini, jalan selanjutnya datar. Syukurlah, ini tandanya kami hampir sampai. benar saja, setengah jam setelah itu kami sampai di puncak. Syukur alhamdulillah... "Blue Fire".

Blue firenya mana inung? Jangan tanya deh, kami lihatnya cukup dari puncak, sepertinya kami bakal kuwalahan kalau harus turun sampai kawah. Cukup, cukup. Jadi no pict ya... percuma, hanya keliahatan seperti setitik lampu. Waktu menunjukkan pukul 4 waktu kami sampai dipuncak, itu artinya masih ada waktu satu jam untuk menunggu sunrise. Bagaimana kondisi dipuncak? Subhanallah, dinginnya dua kali lipat dari di parkiran. ndak ada tading aling aling istilah jawanya, langsung kena angin.. Jadi, dingiinya menusuk tulang. Saya ngantuk, benar-benar ngantuk, tracking setengah jam terakhir saja saya jalan sambil nyanyi-nyanyi ndak jelas biar tetap terjaga.

ngantuk? ya tidur
Karena dingin banget, kami harus berlindung dibalik batu-batu yang menjulang di sini, untuk menghalau angin. Saking ngatuknya, saya bisa tidur beberapa menit. Tapi kebangun juga saat udara semakin dingin, mulai gerak gerak ndak jelas. Ada yang nyalain api unggun, mendekat, pas udah asik disitu, si bule dateng sambil ngmomel ketamn bulenya "where is my place? u not save my place" oke sir... i know what u mean lah,, mlipir pelan pelan deh, balik lagi ke batu buat nyender.

Pukul 05.00 mas tur ngajak kami bangkit dan kuat, kami naik ke puncaknya batu ini buat melihat sunrise. Semakin teriak-teriak di atas, bukannya ngindari dingin, malah menuju yang dingin. Benar saja, ndak ada batu ndak ada apa, dddiinnggggiii banget.. ini baju yang dobel dobel tidak mampu menghalau dinginnya pagi itu. Tapi aaahhh, foto its a must

Kawah Ijen Banyuwangi
Rischa Inung, Puncak Ijen Banyuwangi, 30 Juli 2017, 05.00

Kawah Ijen Banyuwangi
Kawah Ijen 
Puas rasanya kalau sudah di atas, lupa capeknya, terbayar sudah semua usaha. Tadinya dingin, gelap, ndak bisa melihat apapun, begitu mulai terang. Benar juga cerita mas tur, yang tadinya di jalan capek, ngeluh, sakit sakita, bahkan ada yang sampai muntah, begitu sampai puncak, cciiaatt keluarkan tongsing, selfi sana selfie sini, haahahaha.. Gimana ndak gitu, ini pemdandangannya... Subhanalah....

Kawah Ijen Banyuwangi

Pukul 06.00 kami harus turun, perjalanan masih panjang. Udah turun, bukan nanjak lagi, kami sedikit lebih santai, tertawa bareng, cekikikan mengingat kekonyolan kami tadi saat tracking. Konyol lagi karena mas tur selalu ngingetin saat kami benar-benar kepayahan, dan setiap sudut tempat nyender kami jadi bahan guyonan mas tur.

Mas tur posisi ada di depan, dan kami udah ketawa-ketawa aja di jalan, senyum manis sekali. Lupa bagaimana tadi perjalanan menuju puncak. ya mas tur ini, yang ngingetin sambil ketawa-ketawa ndak jelas.








Troli inilah yang tadi di awal saya ceritakan. Awalnya troli ini digunakan untuk mengangkut belerang dari kawah, dan dijual. Namun, seiring berlalu berjalannya waktu, troli ini berubah fungsi menjadi ojek. Kisaran harga naik lebih mahal dari harga turun, ini sudah jelas. Kalau berdasar cerita mas tur, naik ojek troli, paling tidak menyiapkan budget 600an, mahal sekali bukan. Karena kalau naik, ada dua orang yang membawa ojek, sedangkan kalau turun, cukup satu. Harga disesuaikan dari titik mana kita naik. Karena sepanjang jalan pasti ada kita nemu ojek troli.

Bahkan ada yang nawarin, ayo mbak, naik ojek, naik gratis kok, tapi turunnya bayar.. hahahhaa, gokil.






Perjalanan turun, cukup 1,5 jam. Lama juga ya, kami sambil santai soalnya. Ngeles. Sampai parkiran, kami makan di sini, di waung yang tadi kami ngeteh sebelum tracking. Menunya? yang anget is the best. Indomi kuah andalannya. Langsung makan ya, kalau ndak, dingin deh itu kuahnya, jadi es indomi kalik.

Kami lelah, semua lelah, perjlanan dari sini ke hotel, kami semua tidur. Sampai hotel pukul setengah 9, kami siap siap mandi, packing, dan dijemput pukul 10.00. Selanjutnya? tidak afdol kan kalau traveling tanpa kaos, mampir toko oleh-oleh tentu saja. Osing Banyuwangi. Harga kaos? standart kok, 100an.

Perjalanan panjang di mulai lagi, sebelumnya, kami mampir makan lagi, di GWD. hahahaha, selamat makan,, lagi lagi di sini. Pukul 12, sudah makan, sudah sholat, perjalanan menuju Surabaya dimulai. Ngebut ngebutan di jalan, kejar waktu, kereta pukul 21.00. Akhirnya sampai kami di Pasar Turi pukul 20.00. berpisah kami dengan sandra dan mas tur. Selamat berjumpa kembali kawan...

Boaringpass pulang
Boarding pass sudah dapat, karena kami naik ekonomi, lokasi tunggunya semrawut gitu, antrian panjang, duduk lesehan ndak jelas, yah benar-benar ekonomi lah. Pukul 21.00 tepat Kertajaya membawa kami pulang ke Semarang, dan sampai jumpa di perjalanan berikutnya..

Semarang, 18 Agustus 2017